halsketting

Halsketting

Kalung

Aku menggayuh sepeda tua ini sekuat mungkin, berharap benda kecil yang melingkar di tangan kiriku ini memperlambat detiknya. Klakson kendaraan yang hilir mudik berbunyi sedari tadi, ditambah lagi nada dering ponsel yang tak henti-hentinya menjerit, membuatku semakin tidak konsentrasi.

Akhirnya aku sampai disebuah rumah sakit tua peninggalan Belanda, yang bangunannya bisa dibilang cukup besar dan terawat, dengan cat putih bersih,namun sebagian sudah terkelupas , dan ukiran-ukiran tua khas negeri kincir angin. Aku memarkirkan sepedaku bersama deretan sepeda lainnya, dan langsung berlari menuju meja resepsionis.

“Ny. Sri Hartati” kataku pada seorang perempuan muda yang duduk dibelakang meja resepsionis itu.

“Ruang Mawar nomor 6” katanya, setelah beberapa detik meneliti di layar sebuah komputer keluaran lama.

“Terima kasih”

Aku meneliti pintu ruangan satu persatu, berharap dapat segera menemukan ruangan yang tadi disebutkan oleh wanita resepsionis itu.

“4…5… ya !” tanpa menunggu lagi aku langsung membuka kamar dengan pintu bertulisan Ruang Mawar No.6 itu. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihat sosok yang kucari telah terbujur kaku diatas sebuah ranjang tua, dengan sehelai selimut tipis yang sudah menutupi seperempat tubuhnya.

“Nenek…….!” tanpa ku sadari, air mataku langsung jatuh dengan derasnya, sambil memeluk sosok orang yang kusayangi itu dan menggoyang-goyangkan tubuhnya, berharap sebuah keajaiban muncul, dan membangunkan sosok itu kembali. Tubuhku lemas, rasanya tak mampu menahan beratnya tubuh ini, pandanganku seketika kabur. Namun sebelum aku terjatuh, seorang laki-laki yang-berumur-sekitar-setengah-abad yang dari tadi ternyata berada disisi lain ranjang nenekku menopangku dari belakang. Samar-samar aku melihat sosok lelaki itu, hidungnya mancung, matanya biru muda, dan wajahnya…. wajah asli orang Belanda! Akankah dia… ?KAKEK!

* * *

Mataku mengerjap-ngerjap, melihat sekelilingku, apakah aku sedang dikelilingi para malaikat? Apakah aku sudah berada dialam lain? Apakah aku sudah mati? Kenapa banyak sekali orang disini? Sederet pertanyaan itu tiba-tiba saja menari-nari dikepalaku.

” a.. aku dimana ?”

” Tenanglah, kau akan aman disini, elise”

Laki-laki itu… bukankah dia yang berada dirumah sakit tadi ?siapa dia sebenarnya? Kenapa dia tahu namaku?

“ohya, saya alexander, tapi kamu bisa panggil saya alex. Saya adalah adik dari kakek kamu, mike. Setelah kepergian nenek kamu, saya memutuskan untuk merawat kamu, karena saya tahu kamu tidak memiliki keluarga lagi di jakarta, bukan ?” kata pria itu panjang lebar, seakan dapat membaca pikiranku. Aksen bahasa Indonesianya terdengar sedikit aneh ditelingaku.

Tapi, aku masih bingung, kenapa tiba-tiba aku bisa berada disini ? lalu tiba-tiba aku teringat sesuatu

” nenek.. nenek dimana ?” tanyaku tiba-tiba,kini mataku telah penuh dengan airmata, yang kapan saja akan keluar tanpa diminta.

“maaf Elise, kamu pingsan terlalu lama. Jadi kami tidak bisa meminta keputusanmu untuk pemakaman nenekmu tadi. Tapi jika kau ingin, kami akan bersedia mengantarkanmu ke makamnya”

Aku tak tahu harus berbuat apa sekarang, tiba-tiba saja air mataku mulai menetes, aku tak sanggup lagi membendungnya, satu-satunya keluargaku telah pergi untuk selama-lamanya. Dan kini, aku berada disekeliling orang-orang yang menurutku sangat asing , namun memiliki ikatan darah denganku.

“tak usah, terima kasih karna telah bersedia merawatku, jika tidak ada kalian aku tak tahu harus bagaimana. Karena setahuku keluargaku yang lainnya, semuanya berada di Belanda” jawabku sambil mengusap air mataku dengan satu-satunya harta yang kupunya selain ponselku sekarang, bajuku.

“yasudah kalau begitu, sekarang biar kau kukenalkan dengan anggota keluargamu yang lain yang sedari tadi telah menunggumu disini”

Berkali- kali aku melakukan hal yang sama, berjabat tangan dan menyebutkan namaku. Tapi aku yakin, jika ditanya ulang satu persatu, aku tak akan bisa menyebutkan nama mereka dengan benar. Vince, Matthijs, Rosa, kyra, mereka semua memiliki nama asli orang Belanda. Tak bisa dipungkiri, wajah mereka memang bukan wajah Indo sepertiku. Wajah mereka semua, asli wajah bule. Kecuali… kecuali seorang wanita yang sedari tadi berdiri disamping pintu sambil menatapku datar. Dia memiliki mata biru yang sama sepertiku, wajahnya juga merupakan wajah blasteran. Siapa dia?

Saat aku ingin berkenalan, tiba-tiba ponsel wanita itu berbunyi. Dia berjalan menjauh sambil berbicara dengan si penelepon itu. Sepertinya dia merupakan sosok wanita karir yang sibuk. Terlihat sekali dari matanya, dia kelelahan.

“Elise ?”

” ah.. iya ?” panggilan itu memecahkan lamunanku

” jika kamu sudah merasa sedikit baik, kamu bisa berjalan-jalan di halaman rumah belakang” kata alexander

“ya” jawabku sambil tersenyum

Saat berjalan-jalan ditaman belakang, aku sangat mengagumi penataannya. Bukan Cuma tamannya, namun juga bangunan rumah ini. Arsitekturnya sangatlah elegan. Alexander pastilah orang yang sangat kaya raya. Namun, langkahku terhenti. Aku melihat perempuan yang tadi belum sempat berkenalan denganku sedang duduk di taman belakang ini, sambil memandangi kolam renang dengan pandangan yang kosong.

“hai, aku elise” sapaku sambil mengulurkan tangan dengan maksud ingin berkenalan

” kamu tidak perlu menyebutkan namamu seperti itu, tidakkah kamu sadar bahwa saya juga berada dikamar itu saat kamu memperkenalkan namamu di depan semua orang tadi ? sudah sepantasnya saya tahu siapa nama kamu sekarang. Bagaimana kau betah disini ?”

“oh.. ya aku betah disini” kataku sambil menarik kembali tanganku dengan sedikit canggung

” Tapi akan kupastikan bahwa kamu akan menarik kembali kata-katamu itu, anak seperti kamu ini tidak pantas untuk tinggal disini” katanya sambil berjalan dengan angkuhnya. Namun dia menoleh kembali ” aku… rose” tambahnya, sebelum dia benar-benar lenyap dari pandanganku.

* * *

Hari demi hari, aku lewati disini. Meyenangkan memang bisa merasakan yang namanya keluarga besar. Aku teringat dengan nenek. Ingatan bersama nenek bermain-main di pikiranku seperti film yang diputar. Aku memegang liontin pemberian nenekku, dulu nenek bilang bahwa dia juga memberikan liontin yang sama pada orang yang dia sayang. Entahlah siapa, mungkin kakek. Andai aku tahu dimana kakek berada.

“aahhh !” aku berterik kesakitan , aku tersadar dari lamunanku, karena tiba-tiba saja seseorang mencekik leherku

“kau harus matiii !”

“Kau ??!! kenapa kau inginkan aku mati rose?” teriakku pada wanita itu sambil berusaha melepaskan tangannya di leherku.

“karena kau tak pantas untuk hidup !” jawabnya sambil mencengkram leherku lebih erat lagi

” arghhhh ! siapa kau sebenarnya ! ”

” haha! Kau tahu ? kau yang telah membuat hidupku berantakkan, kau yang membuat kehormatanku hilang. Andai saja kejadian 17 tahun silam tidak terjadi, aku pasti sudah bahagia dengan orang yang kucintai sekarang. Dan ini waktu yang tepat untuk kau membayarnya dengan nyawamu elise sayang.. ”

” hah ! kau tak akan semudah itu membunuhku !” aku berhasil melepaskan tangannya, dan kini akulah yang berbalik mencekikya. ” kau yang akan mati ! hahahaha”. Saat aku berusaha mencengkram lehernya, sesuatu yang berkilauan jatuh ke lantai, aku sangat terkejut ketika melihat benda itu. Liontin itu, liontin yang sama denganku. Kenapa bisa berada di dia ?

“KAU ! ”

aku menarik tanganku, tubuhku lemas. Kakiku tak sanggup menahannya hingga aku terjatuh ke lantai. Semuanya tibatiba mejadi gelap. Dialah orang yang kucari selama ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s