IB U # Part 2

IBU 

Oleh : Feranda Ayu Syafitri

Ternyata laki-laki yang ku tolong tadi bernama Gunawan, dia adalah seorang pengusaha sukses dari Jakarta, dia sedang mencari rumah keluargannya disini namun sepertinya alamat yang dipegangnya itu salah dan membuat dia tersesat hingga ke desa ku.

Hujan telah reda dan kami memutuskan untuk pulang , aku menunjukkan jalan keluar dari desa kami kepada bapak Gunawan agar dia bisa pulang dengan selamat dan setelah itu dia memberikanku beberapa helai uang namun aku menolaknya, aku selalu ingat dengan pesan ibu untuk selalu berbuat ikhlas. Walaupun terus memaksa namun akhirnya laki-laki itu mengalah dan mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetya “ada lowongan kerja di perusahaanku , jika kau membutuhkannya jangan sungkan-sungkan untuk datang” Dengan senang hati aku menerima tawaran itu , entah apa yang berada di pikiranku namun meski pulang nanti aku tak membawa makanan sedikitpun tapi aku membawa kabar bahagia yang bisa membuat ibu dirumah senang. Tak bisa menunggu lama, aku berlari menuju rumahku, beberapa kali aku terjatuh hingga luka karena jalan yang licin. Namun itu tak menghentikan langkahku. Aku ingin secepatnya memberi tahu ibu tentang kabar gembira ini. Rasa senang yang menggelegar dihati ini rasanya tak bisa ku pendam tatkala aku menginjakkan kaki dirumahku ini. Dan langsung saja ku hamburkan semua rasa gembira ini kepada ibu dan adikku dirumah. Mereka langsung memelukku dan mendukungku untuk pergi ke Jakarta untuk bekerja mencari uang. Hari itu tiba, hari dimana aku pergi ke Jakarta memulai pekerjaan baruku dan meninggalkan ibu dan adikku dirumah. Sebenarnya aku tak tega meninggalkan mereka berdua, namun apa daya , kelak jika nanti aku telah sukses aku akan membawa ibu dan adikku tinggal di Jakarta. Tinggal di istana megah yang selama ini telah kami impi-impikan. Jarak kantor dan rumahku hanya sekitar 2km saja, terkadang aku tak perlu melambaikan tanganku untuk memanggil taksi , cukup dengan berjalan kaki saja tak memakan waktu sampai 1 jam. Kadang-kadang aku pergi ke kantor bersama Gaby rekan kerjaku sekaligus sekretaris pribadinya Pak Gunawan yang tempat tinggalnya hanya berjarak dua blok dengan rumahku. Namun hari demi hari kami semakin dekat dan perasaan cinta itu mulai tumbuh diantara kami berdua. Hingga suatu hari aku memutuskan untuk mengikat tali hubungan kami ke pelaminan yang sebelumnya telah direstui oleh kedua orang tua kami. Aku mencoba menelpon ibuku dan adikku untuk menyuruh mereka hadir di acara pernikahan kami , ibu setuju untuk datang, namun ibu menolak tawaranku untuk mengongkosinya kesini naik pesawat katannya biarlah mereka naik bus saja , takut nanti ibu mabuk dipesawat dan merepotkan saja. Saat hari pernikahanku pada waktu itu, ibu duduk dikursi orang tua mempelai pria, bersama pamanku yang hadir sebagai perwakilan dari ayah, ibu terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya hijau dan sanggul yang melingkar di rambutnya , namun perlahan aku sadar itu bukanlah ibu ,itu adalah bibiku -istri dari pamanku-. Nyatanya sampai sekarang aku masih belum rela mendengar kabar bahwa ibu telah meningga dunial dua bulan yang lalu sebelum pernikahanku karena sakit keras yang dideritanya, namun yang aku yakin, disana ibu telah bahagia terlebih melihat anaknya telah sukses dan menemukan cinta sejatinya.

***

Sayup-sayup kudengar istriku sedang mengobrol diluar bersama seorang perempuan, samar-samar kulihat wanita itu dari jauh, wajahnya bayang-bayang karena air mata yang masih menggumpal di mata ini , ternyata itu adalah bik Masni istrinya mbah Hirjo. Dari jauh kulihat dia tersenyum kepadaku dan aku pun membalas senyumannya.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s