Reader

” Fa, dipanggil kepsek tuh dikantor!”

” whaat ? kepsek ? ada apa lagi sih.. ganggu gue aja ” dengan malesnya, safa yang lagi menikmati banget makan dikantin, terpaksa harus nemuin kespsek di kantornya.

” tok..tok..tok.. permisi pak. Bapak manggil saya?” kata safa dengan sopannya

” oh iya Safa, silahkan duduk ” jawab pria separuh baya ini dengan ramahnya.

Gak perlu ngelirik kemana-mana lagi, mata safa langsung tertuju dengan seorang anak SMA, yang wajahnya gak pernah dia lihat, dan sekarang sedang duduk tepat disebelah safa. Ini anak baru ya kayaknya. Kok gue gak pernah liat?.

” maaf pak, kalau boleh tau ada apa ya bapak manggil saya kesini ?”

” hmmm.. begini Safa, sebelumnya saya mau memperkenalkan kamu dulu dengan keponakan saya yang ada disamping kamu, namanya putra, mulai hari ini dia akan menjadi siswa di sekolah ini. Dan maksud saya memanggil kamu, berhubung kamu ketua OSIS disini jadi saya ingin kamu memperkenalkan dia dengan sekolah kita,kamu bersedia kan?”

“ohhh, iya pak. Baiklah”

“bagus, dan satu lagi, kamu juga akan satu kelas dengan dia. Jadi saya harap kalian bisa berteman baik ya.”

” oh pasti pak” jawab safa mantap. Siapa juga yang gak mau temenan sama cowok kece kayak gini, yah semoga aja dia gak belagu.

*

“dari tadi kok diem aja, ohya kenalin gue Safa Azzahra, tapi temen-temen sering manggil gue Safa” kata Safa yang memulai duluan pembicaraan akhirnya. Dia sangat bosan karena dari tadi hanya berjalan di koridor, tanpa pembicaraan.

” gue udah tau lagi, dari tadi paman gue kan nyebutin nama lo sampe gue inget, dan gue juga yakin lo udah tahu nama gue.”

Gilaaa, gue baru kali ini ditolak cowok mentah-mentah, awas aja gue bakal buat lo bertekuk lutut sama gue.

” ya, gue udah tau sih nama lo tapi kan gue gak tau nama lengkap lo”

” Putra Barawijaya”

what ! barawijaya… barawijaya ! lo anak pengusaha terkenal itu?”

“suara lo gak usah gede-gede banget kali,bokap gue gak terkenal-terkenal amat kok” kata putra sambil menutup telinganya karena suara safa yang melengking itu.

” gue kagum aja kali, kenapa ya lo mau sekolah disini. Padahal kan diluar sana lebih banyak sekolah yang lebih bagus. Gue yakin kok bokap lo bisa ngebiayain sekolah yang lebih mahal dari sekolah ini ” bantah safa yang sebenarnya masih terkagum-kagum.

” kalo masalah itu, gak usah dibahas lah, bukan urusan lo juga kan”

“jutek amat, dasar cowok aneh !”

” elo kali yang cewek aneh, harusnya ketua osis tu cowok bukan cewek” kata putra dengan dinginnya

” jadi lo ngerendahin kaum cewek ? lagian gak ada masalah kok, toh disini cowoknya gak ada yang punya komitmen. Gimana nasib sekolah ini kalo ketua osisnya gak berkomitmen”

Putra geleng-geleng kepala. Gimana nasib sekolah ini kalo ketua osisnya terlalu talkactive?. Putra tidak habis pikir, niatnya pindah kesekolah ini gara-gara ingin menjauhi teman-temannya yang dulu sering pamer kekayaan, tapi dia malah bertemu dengan cewek yang super talkactive dan gak pernah mau ngalah. Tapi dalam hatinya dia kagum dengan safa, biasanya cewek cantik kayak Safa gak pernah mau megang jabatan di organisasi, dan cuma bisa hura-hura atau gak ngabisin duit orang tuanya.

Bel masuk telah berbunyi, tanda semua murid harus masuk ke kelas sekarang juga. Dengan ditemani safa, putra melangkah menuju ke kelas barunya, dia baru ingat bahwa mulai sekarang dia adalah temen sekalasnya safa. Putra duduk di kursi kosong dibelakang safa, dan saat guru pelajaran pertama masuk, dia langsung disuruh untuk memperkenalkan dirinya. Putra bisa melihat ekspresi terkejut teman-teman barunya ini saat dia menyebutkan namanya, tepatnya nama belakangnya. Putra berharap semoga mereka bisa berteman dengannya dengan tulus bukan karena kekayaannya. Setelah perkenalannya selesai putra kembali duduk di kursinya dan mengikuti pelajaran selanjutnya sampai bel istirahat berbunyi.

” put, mau ke kantin ?” tanya safa kepada putra

” emmm, boleh” kata putra setelah berpikir sejenak dengan tawaran safa itu, kalau perutnya lagi gak laper mungkin dia bakal menolak tawaran safa itu. Dan kembali melihat ekspresi cewek itu berubah drastis. Putra tesenyum geli melihatnya.

Saat berjalan di koridor menuju kantin, putra melihat sesuatu yang aneh namun tidak asing baginya melekat ditangan kanan safa, namun putra agak sulit untuk memastikan benda itu, karena safa sedang memakai jaketnya. Akhirnya setelah lama meneliti, putra memastikan bahwa apa yang ada dipikirannya memang benar.

” fa, sebelumnya maaf kalo gue lancang, tapi gue boleh tanya sesuatu gak sama lo?” putra pun memulai pembicaraannya setelah memesan makanan, untuk mendapatkan jawaban akan keraguannya tentang gelang yang diapakai oleh safa.

” ya kalo itu gak terlalu privasi, gakpapa kok” jawab safa yang masih berkonsentrasi memotong sambil mengunyah baksonya.

“gelang yang ada ditangan lo…”

” oh ini dari nenek gue, Cuma gelang biasa kok bakn apa apa” sebelum putra mengakhiri pertanyaannya itu , safa memotongnya duluan.

” jangan bohong fa ” lanjut putra sambil mengacungkan tangan kirinya dan memperlihatkan gelang yang sama persis dengan safa ” gue mindreader ” kata putra sambil tersenyum.

Safa tercekat, lidahnya kelu ingin menjawab apa. Safa tak punya pilihan, dia akhirnya pergi meniggalkan putra, yang masih terduduk di kursi kantin. Dan tak lama dari itu bel masuk pun berbunyi. Putra yang baru saja masuk ke kelas langsung menghampiri safa dan bermaksud untuk meminta maaf, namun sebelum dia meminta maaf , safa telah meminta maafterlebih dahulu padanya.

” maaf ya put, tadi gue sempet shock. Gue kira Cuma gue yang punya gelang dan kemampuan ini tapi ternyata…” safa menghela nafas ” gue feelingreader ” lanjut safa sambil tersenyum, setelah itu guru selajuntnya pun masuk kekelas mereka.

” dompet gue kemana ? guys ada yang liat dompet gue gak ? ” tiba tiba saja iren berteriak didalam kelas sambil mencari dompetnya.

” kenapa kamu beteriak begitu ren ?” kata ibu Keke, guru yang sedang mengajar di kelas sekarang.

” dompet saya ilang bu. Pokoknya ibu harus cek tas seluruh murid karna saya yakin disini ada maling !” kata iren histeris.

Akhirnya ibu keke menyetujui usul iren dan memeriksa tas murid satu persatu. Dan setelah pemeriksaan berlangsung, bu keke menemukan dompet iren di tas alisa, salah satu murid yang mendapatkan beasiswa disini. Semua murid dikelas menjadi heboh, dan berteriak maling kepada alisa. Namun safa yakin bahwa alisa bukan pelakunya, dia dapat melihat jelas dari mata alisa bahwa cewek itu jujur. Putra langsung menghampiri safa dan memberitahukan apa yang dibacanya.

” fa, bukan dia pelakunya. ” kata putra tegas

” kalo itu gue udah tau, sekarang pertanyaannya, pelakunya siapa ?”

Putra melemparkan pandangannya ke seseorang yang tadi mengaku dompetnya hilang “Dia pelakunnya.” kata putra dan seketika itu dia langsung menarik tangan safa untuk mengajaknya keluar. ” kita harus bantu alisa fa “

” iya gue tau, tapi gimana caranya put?” jawab safa sambil melepaskan tangan putra. Dalam situasi seperti ini mereka sebisa mungkin menolak bertatap pandang, karena jika itu terjadi mereka akan sama-sama membaca pikiran dan perasaan dari mereka masing-masing.

” di kelas ada kamera cctv nya kan? Nah kita bakal pake itu.” Kata putra yakin

” tapi Put, selama ini gak ada yang tau dimana ruangan pemantau cctv itu berada, kecuali pak Abdul!!”

” astaga fa.. lo lupa kalo gue mindreader ? sekarang tugas lo , tunjukin sama gue yang namanya pak abdul itu, oke ?”

Safa mengangguk. Mereka segera pergi keruangan pak Abdul untuk melaksanakan rencana mereka.

” naah itu yang namanya pak Abdul ” kata safa sambil menunjuk seorang laki-laki yang umurnya kira-kira 40an, dan sekarang sedang duduk sambil menikmati secangkir minuman.

“kalo gitu lo tunggu disini ya. Jangan kemana-mana. Oke ?”

” oke “

Dari kejauhan Safa bisa melihat putra berbicara dengan pak Abdul, dari raut wajahnya menyiratkan bahwa dia berhasil menggait sebanyak-banyaknya informasi dari Pak Abdul. Tak lama kemudian putra keluar dari ruangan itu dan memberikan kode kepada Safa agar mengikutinya. Safa mengerti dan segera menyusul Putra. Mereka sampai disuatu ruangan yang berada dibelakang sekolah, selama hampir dua tahun bersekolah disini safa tak pernah ketempat ini.

” pintunya dikunci put ” kata safa ketika ia ingin membuka pintu ruangan itu

” tenang aja ..” jawab putra sambil mencari-cari sesuatu di pot bunga yang terletak didepan ruangan itu. Dan benar saja, disitu ternyata terletak kunci ruangan tersebut. Dengan sekali ‘klik’ pintu ruangan itu terbuka. Dari sini mereka bisa melihat banyak sekali tv untuk memonitor kamera cctv yang berada disetiap ruangan disekolah ini. Dengan segera dan tak ingin membuang waktu, kami mulai menjelajahi ruangan itu untuk menemukan benda yang kami cari.

” put, aku gak yakin deh kalau kamu gak tau dimana kaset rekaman cctv itu desimpen ” kata safa sambil menyipitkan matanya.

” emang siapa yang bilang kalo aku gak tau ?” jawab putra sambil menunjukan sebuah kaset dan tersenyum puas, sebelum akhirnya tertawa.

” emang ada yang bilang lucu, gak ! udah ah , sekarang mendingan kita langsung ke kantor kepsek aja, gue yakin mereka semua lagi disana”

Mereka berdua langsung pergi kekantor kepsek, dan ternyata perkiraan safa tepat. Iren, alisa, serta guru-guru yang lain sedang berada disana.

” pak tolong jangan keluarkan saya dari sekolah ini, saya bukan malingnya” ujar alisa tersedu-sedu

” lo gak usah ngebantah lagi deh, jelas-jelas dompet gue ada di lo !” bentak iren, sambil menunjuk kearah alisa.

” pak bukan alisa yang nyuri dompet iren !” tiba-tiba putra langsung datang dan berencana untuk mengungkap semuanya.

” eh lo anak baru gak tau apa-apa ! gak usah ikut campur deh !” bentak iren

” dia yang gak tau apa-apa, atau lo yang pura-pura gak tau apa-apa ?” timpal safa ” pak kami bawa rekaman video dari kamera cctv yang merekam semua yang terjadi dikelas hari ini, gimana kalau kita buka aja untuk memastikan semuanya” lanjut safa dengan tersenyum sinis pada iren.

” baiklah kalau begitu saya setuju” kata pak Hasrin, kepala sekolah di SMA Pelita

Dari cctv tersebut, terlihat jelas bahwa saat jam istirahat, iren dan teman-temannya meletakkan dompetnya sendiri di tas alisa agar alisa dijadikan tersangka dalam kasus pencurian dompetnya kali ini. Iren tidak bisa mengelak lagi, karena bukti telah berkata jelas, dan akhirnya dia dibawa kekantor BK untuk mendapatkan hukuman.

” makasih ya , lo berdua udah nolong gue” kata alisa

” sama-sama, kita tau kok lo bukan malingnya, makanya kita bantu” balas putra

“kalau gitu gue ke kelas dulu ya, sekali lagi makasih ” kata alisa meninggalkan mereka

Saat ingin berjalan kekelas, tak sengaja kaki safa tersandung dan hampir terjatuh. Untung ada putra yang menangkapnya. Dan pandangan mereka pun bertemu.

Deg-degan, cinta dan sayang itu… Itu perasaan putra atau perasaan gue ?

“Deg-degan, cinta dan sayang itu… itu perasaan gue fa “

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s